Dream Girl
Setiap orang memiliki mimpi. Termasuk gue. Dulu waktu masih kecil sempat gue menyukai seni tari. Hingga punya cita-cita menjadi penari latar *sekarang nggak mungkin banget.hhaaa. waktu itu juga gue sempet mau jadi anggota FBI gitu *kena virus Hollywood movie nihhh. Tapi parahnya gue sempet cari-cari sekolah FBI di Indonesia gitu (dibawah BIN) gitu. Tapi setelah tanya-tanya ke bokap “berat kerjanya. Kalo orang kayak gitu, harus siap mati” upps. Setelah itu gue berpikir, mendingan cari kerja yang nggak cari musuh deh. Walaupun kalo ngliat film FBI gitu mata gue pasti berbinar-binar *padahal gue tau itu juga boongan. Tapi tetep aja seneng. *aneh hhhaa
Well, agak flashback. Gue pertama kali nonton bioskop itu nggak tau tahun berapa. Yang pasti film pertama gue itu national treasure 2. tuh kan, dari awal gue nonton film di bioskop aja udah film action and history gitu. Melibatkan polisi dan FBI lagi. gemana gue nggak makin terinspirasi. Dan percaya atau enggak selama itu film indonesia yang gue tonton di bioskop tuh Cuma ketika cinta bertasbih (1 dan 2) dan naga bonar. Wakwakwak. Sisanya luar negeri semua. Genre yang gue tonton juga kebanyakan komedi, drama, dan action. Tau film vantage point? Itu film dadakan yang gue tonton ma kakak gue. Isi penontonnya Cuma ibu” dan bapak”. Emang sih filmnya seru. Tapi ngebingungin. Tapi tetep seru karena otak gue dituntut mikir dan konsen. Hhhhaaaa
Mulai suka film gitu. Keinginan gue jadi berubah menjadi seorang sutradara. *hhhhaaaa. Nggak percaya kan?! Gue aja nggak!
Abis enaknya sutradara tuh bisa nyuruh siapa aja (pemain, crew, produser pun harus ngikut kata sutradara untuk nyiapin uang). Udah gitu bisa jalan-jalan ke tempat yang mau jadi lokasi syuting. Dan yang paling enak. Kalau filmnya bagus, berbobot, pasti sutradara juga kena ciiprat famous * hhhhhhaaaa
Dari smp tepatnya gue udah mulai berkhayal memilki sebuah cerita. Misalnya tentang percintaan, pembunuhan, fiksi, sampe tentang FBI-an gitu. *hhaa itu sih emang maunya gue.
Beberapa adalah cerita yang gue buat tanpa ditulis atau script naskah. Semua mengalir begitu aja di otak.
1. True Love
Trailer : ada seorang wanita bernama Gina. Dia nggak begitu cantik. Dia bahkan bukanlah anak yang berkecukupan dan anak yatim yang ibunya mengidap kanker. Namun dia bisa melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Anakanya agak tomboy dan mess up. Dan dia memiliki sahabat dari kecil yang sekarang juga sekampus. Bedanya sahabatnya itu adalah orang tajir abis dan lelaki playboy. Namanya Leo. Ada kalanya si Gina bantu si cowok untuk dapetin mangsa. Hingga suatu hari Leo ngerasa dia nyaman banget sama Gina. Dan ngerasa kenyamanan itu lebih dari sekedar sahabat. Sayangnya ketika tuh Leo ngaku suka tuh Gina nggak dalam waktu yang tepat. Pasalnya ibu Gina lagi kritis karena kanker. Jadi , Gina malah ngerasa Leo nambah kekacauan. Leo berusaha bantu Gina dengan memberi uang untuk pengobatan. Tapi Gina malah tersinggung dan ngamuk besar di depan Leo. In short. Ibunya Gina berhasil diselamatkan dengan bantuin Leo. Tapi Leo malah pergi ke luar kota menjauhi Gina. Ia ingin melupakan Gina dan nggak mau Gina makin marah dengannya. Lama Gina nyari Leo. Beberapa bulan kemudian tuh Gina nyamperin tempat tinggal Leo di sebuah bukit di malam hari *ceritanya Gina butuh perjuangan untuk ke sana. Sampe akhirnya mereka bertemu dan Gina minta maaf. Dia mengaku Leo itu juga berharga baginya.
Cast : Gina: *maunya gue hhhaaa. Ngga ding.
Leo : Evan *dulunya dikenal vj evan. Hhhaaa
2. Finally
Trailer : ada 2 sahabat lagi nih. Cewek dan cowok. Mereka masih SMA gitu. Si cewek ini namanya Kimi. Dan si cowok ini namanya Shane*terinspirasi sama westlife. Nah shane ini tuh udah lama suka sama Kimi. Tapi dia nggak berani bilang. Sampe suatu hari sekolah ngadain study tour. Mereka kepisah kelompoknya. Kimi sama cowok yang menurutnya paling nyebelin. Namanya Mark*terinspirasi sama westlife lagi. Kimi terus-terusan curhat sama shane tentang Mark. Dengan bijak shane bilang santai aja. Mark baik kok* sok bijak ceritanya. Hingga habis pulang study tour, Mark dan Kimi malah pacaran. Si cewek bilang itu dihadapan shane dengan muka bahagia. *tau kan gemana perasaannya shane?!
Hingga akhirnya mereka menikah. Mark pindah ke London. 2 tahun kemudian Shane balik dan dia baru dapet kabar kalo 5 bulan setelah menikah, Mark meninggal. Mendengar itu Shane menghibur Kimi dan merasa punya kesempatan lagi*licik banget tuh. Tapi sayangnya Kimi malah udah punya tunangan bernama Kian*terinspirasi sama westlife lagi lagi. In short. Kimi sadar dia tunangan ma kian karena emosi melihat kepergian mark. Dan dia sadar yang dia cintain itu Shane. Yang selalu memberinya semangat hidup semenjak jaman sahabatan ampe sekarang.
Cast : Kimi : masih misteri. Mau bantu nyari?.
Mark, Shane, Kian * ini ngehayal banget!wkwkwkwk
3. ini nih yang paling gue suka. Gue mikirnya berbulan-bulan!hahahahahaha
Too Late
Trailer : Di suatu daerah perbatasan USA dan Meksiko.ada sepasang kekasih. Si cewek bernama Camelia. Si cowok bernama Justin. Camelia adalah seorang mahasiswi psycology di sebuah universitas. Dia tinggal hanya bersama adiknya karena orang tuanya ada di Prancis. Sedangkan Justin adalah pelayan di sebuah resto. Dia hidup sebatang kara. Orang tuanya bercerai sejak ia berumur 6 bulan. Maka dari itu dia termasuk lelaki yang hidupnya tak terarah. Tak disangka, karena saking kepepet hidupnya, ia terpaksa menjadi kurir narkoba.* cerita gue udah mulai meluas. Tapi dia tidak pernah memakai barang itu. *agak mustahil memang.
Selama ini dia memberikan surprise kepada Came dengan uang haram itu. Hingga akhirnya pekerjaannya itu terbongkar oleh Came. Came kalut. Dia bingung dan jadi tak bisa berpikir jernih. Dia sakit hati dibohongin sama Justin. Padahal dia cinta banget sama tuh cowok. Akhirnya Dia memilih langsung kabur ke New York dan menyingkir dari kehidupan Justin.
Setelah itu Justin jadi stres dan dia malah make. Dia nggak pernah bisa menemukan Came. Dia and the genk takut Came melapor polisi. Hingga 10 tahun kemudian Came udah jadi psikolog profesional gitu. Dia punya temen deket lelaki yang kerja sebagai FBI gitu. Namanya Matt. Suatu hari Matt minta bantuan Came untuk membantu menyingkap rahasia menggunakan kedekatan psikology dengan seorang tersangka gembong narkoba terbesar se USA. Mendengar itu Came semangat menerima tawaran Matt tanpa tau siapa tersangka itu sebelumnya. Hingga ketika telah tau, Came kaget bukan main. Tersangka itu adalah Justin. Dengan penampilan yang lebih kacau.
Akhirnya Came memilih mundur. Tapi setelah dipikir-dipikir kalo dia yang menintrogasi, mungkin akan lebih berhasil membantu FBI menghancurkan gembong barang haram itu karena sebelumnya ia punya hubungan dengan Justin. Dengan mengorbankan emosi dan sakit hatinya, dia mulai mengintrogasi Justin.
In short, Justin mau buka suara siapa bos sekaligus gembong terbesar narkoba. Terus mereka mulai ‘mancing’ bos itu biar ketangkep. Bersama Came, Justin mulai menyusuri hutan-hutan gitu buat ketemu sang bos narkoba. Disana Justin sempat berkata jujur tentang status pekerjaannya dulu sewaktu masih bersama Came. Came mulai sudah bisa menerima Justin lagi. tapi setelah bertemu dengan bos narkoba, Justin malah disuruh bunuh Came karena menurutnya Came bisa mengancam. Terjadi baku tembak dan actionkayak di film-film gitu. Sampai akhirnya FBI berhasil menangkap gembong narkoba itu. Namun Justin malah mati karena ditembak. *aduh ribet deh. Nggak tau kenapa Came jadi menyesal pernah meninggalkan Justin tanpa mendengarkan alasannya. *ini nggak patuh dicontoh.
Adegan akhir : di pemakaman Justin, Came *masih dengan luka-luka gitu. Terlihat sangat sedih banget. Dia nggak henti-hentinya menangis di hadapan makam Justin. Hingga Matt datang dan memegang pundak Came. Sambil menenangkan Came dia bilang “Justin lelaki yang baik. Dia hanya salah arah. Disana dia akan tenang.“. gitu....... tapi dalam hatinya dia bilang “aku bersedia jadi pengganti Justin kok“*hhhhaaaa mupeng.
Rating nya tinggi nehhh. hhaaahhhaaahhhhaaa
semoga ada produser yang melirik. wkwkwkwk
if you like something, you can do that but, if you can do something, it doesn't mean you like that.
Jumat, 07 Januari 2011
Rabu, 29 Desember 2010
Minggu, 19 Desember 2010
Glee mania
glee tuh ternyata keren banget ya. salut buat krew nya. pasalnya bisa mengaransemen lagu-lagu yang tadinya mungkin nggak terkenal. sekarang malah jadi terkenal. gue suka banget sama no air, open your heart, taking chances, poker face, papa don't preach me, sweet caroline deelel deh! hhhaaaa
tapi sayangnya belum ada cowok di glee yang membuat gue melting...... finn? badannya terlalu besar.
puck? gue nggak suka rambutnya. kurt? come on. dia hombreng tau. heeemmm tunggu sampai ada yang kinclong aja dehhh hhhaaa
kalau ceweknya, nggak tau kenapa gue nggak terlalu suka rachel. mungkin karena dia terkesan ambisius. gue lebih suka sama quinn. hhhaaa mungkin karena dia blonde..*apa coba
so, gue suka glee:)
tapi sayangnya belum ada cowok di glee yang membuat gue melting...... finn? badannya terlalu besar.
puck? gue nggak suka rambutnya. kurt? come on. dia hombreng tau. heeemmm tunggu sampai ada yang kinclong aja dehhh hhhaaa
kalau ceweknya, nggak tau kenapa gue nggak terlalu suka rachel. mungkin karena dia terkesan ambisius. gue lebih suka sama quinn. hhhaaa mungkin karena dia blonde..*apa coba
so, gue suka glee:)
Rabu, 20 Oktober 2010
Speak Up
Speak Up
Siang ini jam sudah menunjukan pukul 10. Tak lama kemudian, bel tanda istirahat bergema ke seluruh penjuru SMA Pelita. Dan para siswa-siswi berhamburan ke luar dari kelas mereka masing-masing. Kantin adalah tempat tujuan pertama mereka untuk melepas lelah setelah seperempat hari berkutit dengan buku-buku pelajaran. Tak terkecuali 3 siswi jurusan IPS. Yaitu, Dista, Mily, dan Tania. Kini mereka sedang duduk di kantin sambil menikmati jajanan mereka masing-masing tanpa terusik dengan padatnya kantin.
“Guys, gue boleh ngomong sesuatu nggak?” Tanya Mily memecah keasyikan Dista dan Tania yang sedang menyantap jajanannya. Mereka berdua mengangguk tanpa berhenti mengunyah.
“Ini masalah Zaki,” kata Mily ragu-ragu. “Gue belum bisa ‘speak up’ ke dia.” Aku perempuan berkacamata itu sambil tertunduk. Mendengar pengakuan Mily, Dista dan Tania hanya bertukar pandangan sedetik lalu kembali menikmati jajanan mereka tanpa menggubris pengakuan Mily.
Setelah satu menit tak ada tanggapan, Mily protes, “Hei, kalian denger nggak sih?” Dista dan Tania berhenti mengunyah lalu memandang Mily, “Komentarin kek!” Sungut Mily kesal.
“Emang mau di komentarin apa lagi?” Tanya Dista acuh.
“Bukannya kemarin kita udah ngasih saran?“ Tambah Tania tak kalah acuh.
Sejenak Mily terdiam. “Gue nggak berani speak up ke Zaki guys. Gue malu. Gue nggak mau.” Mily mendesah kemudian menundukkan kepalanya.
Beberapa hari belakangan ini Mily memang tengah dilema. Pasalnya, Zaki, cowok yang dua minggu lalu ‘nembak’ dia, kini terkesan menghindar darinya. Mily memang telah ‘menolak’ Zaki karena alasan ingin fokus ujian. Maklum, sekarang mereka kelas 3 SMA. Namun ia tidak mau kalau Zaki menghindar darinya. Sepertinya ia mulai merasa kehilangan Zaki.
“Mily kalau kita boleh jujur, sebenarnya kita berdua tuh udah capek banget ngasih saran terus ke elo. Sementara elo nggak pernah mau nglakuin saran yang kita kasih. Percuma tau!” Semprot Dista tanpa basa-basi kepada Mily. Mily tersentak kaget.
Tania menyikut tangan Dista, lalu menoleh ke arah Mily dan mengklarifikasi, “Emm...Mily, maksudnya Dista itu, kita cuma pengin elo ngikutin saran terakhir kita.” Mily mendongak ragu. “Kita pengin elo speak up ke Zaki.” Lanjut Tania lebih serius.
"Tapi gue nggak mungkin nglakuin itu. Apa kata genk dia kalo gue nyamperin dia?”
Dista menatap Mily garang. “Elo mau dengerin kata teman-teman dia atau mau dengerin kata hati elo sendiri?“
Dengan cepat Tania menahan bahu Dista dan mengisyaratkannya agar ia menahan emosinya. Dengan ekspresi bijak, Tania menelengkan kepalanya ke arah Mily.
“Mily. Ini adalah saran terakhir kita. Kita peduli sama elo. Kita enggak pengin elo cemas karena cuma mikirin Zaki doang. Padahal ujian tinggal sebentar lagi. Kita pengin masalah elo segera selesai.”
Dengan nada santai tapi tegas, Tania berkata lagi, “elo harus speak up!”
Mily terlihat seperti tersambar petir ketika mendengar kata terakhir yang di ucapkan oleh temannya yang memakai kerudung itu. Ia kembali menunduk. Ia tak yakin bisa melakukannya. Namun ia pun tak yakin bisa membantah ucapan teman-temannya. Apalagi emosi Dista sudah tak terkontrol. Maklum, diantara mereka bertiga, Distalah yang lebih emosional.
Dan sepertinya jalan yang harus Mily tempuh kali ini adalah speak up. Ya, memberanikan dirinya speak up kepada Zaki.
Beberapa menit mereka bertiga terdiam. Sampai ketika pandangan Dista tertuju kepada seorang lelaki bersama genknya yang memasuki kantin. Ia langsung tersentak kaget dan melirik Tania yang duduk disebelahnya. Memerintah agar Tania mau mengikuti arah pandangannya juga. Yang tertumpu pada sosok lelaki itu.
Dua detik kemudian Tania berkata pada Mily yang masih tertunduk cemas, “Sekarang saatnya elo harus speak up ke Zaki.” Mily mendongak. Ragu-ragu mengikuti pandangan Tania yang tertuju ke arah lelaki yang sedang berdiri cukup jauh dari mereka. Dan ternyata lelaki berkulit hitam manis itu adalah Zaki.
Merasa tak bisa membantah, Mily segera bangkit dan berjalan perlahan menuju tempat Zaki berdiri bersama genknya. Sekali-sekali ia menoleh ke arah dua temannya di kejauhan. Berharap mereka akan berubah pikiran. Tapi itu tidak akan pernah terjadi.
Sesampainya di dekat Zaki, Mily langsung menyapa Zaki. Walaupun terkesan kaku. Zaki agak terkesiap. Tak menyangka Mily menghampirinya.
“Kita bisa bicara sebentar nggak?” Tanya Mily tanpa basa-basi. Lalu Zaki mengisyaratkan Mily untuk mengikutinya menjauh dari genknya. Walau begitu, Mily masih bisa melihat teman-teman Zaki yang menatap geli atas kedatangannya. Tapi Zaki tak menggubris kelakuan teman-temannya itu.
Setelah merasa aman dari penglihatan orang lain, Mily segera menyatakan maksudnya. “Zaki, gue kesini, mau minta maaf sama elo. Gue tahu selama ini gue selalu sok jual mahal ke elo. Gue juga tau selama ini elo marah sama gue karena keputusan gue nolak elo.” Mily menunduk. Tak berani menatap mata Zaki. “Tapi jujur. Gue nggak suka elo menghindar dari gue. Gue nggak mau elo ngejauhin gue kayak gini!”
“Apa kita nggak bisa jadi seperti dulu lagi? Jadi teman yang akrab. . . tanpa terbatas oleh perasaan?” kali ini Mily mendongak untuk melihat ekspresi Zaki. Lalu ia kembali manunduk ke bawah. “Itu aja yang gue mau omongin Zak. Thanks ya udah mau dengerin gue.” Mily segera berbalik dan berjalan meninggalkan Zaki yang masih terdiam menunduk bagai patung.
“Mily.” Tiba-tiba Zaki memanggil Mily yang belum jauh meninggalkannya. Spontan langkah Mily terhenti dan ia menoleh ke arah Zaki.
Perlahan Zaki maju menghampiri Mily. “Sebenarnya selama ini gue cuma mau menghargai alasan elo nolak gue. Gue cuma nggak mau ganggu konsentrasi belajar elo.” Mata mereka beradu. “Tapi, ternyata cara gue itu salah.” Zaki mendesah, “dan gue pikir, kita bisa memperbaikinya dengan kembali bersahabat.”
“Jadi elo mau maafin gue?” Seru Mily tak percaya.
“Dalam hal ini nggak ada yang perlu dimaafin. Kita cuma salah paham aja kok!”
“Berarti mulai sekarang kita teman ya!” Sahut Mily girang sambil mengulurkan telapak tangan kanannya sebagai tanda persertujuan.
“Oke!!!” Zaki tersenyum hangat sambil membalas uluran tangan Mily.
Setelah cukup lama berjabat tangan, akhirnya mereka berdua menarik tangan mereka masing-masing. Pipi Mily berubah menjadi merah padam. Senyumannya terus mengembang. Kali ini ia tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya. Selain ia sudah speak up kepada Zaki, ia juga telah kembali menjalin persahabatannya yang selama ini putus akibat kesalahpahaman.
Kemudian, Mily memilih untuk segera beranjak dari hadapan Zaki.
Sambil melangkah pelan menghampiri ke dua temannya, pikirannya terus melayang mengingat peristiwa ‘bersejarah’ yang baru saja ia alami. Sungguh lega rasanya setelah memberanikan diri speak up kepada Zaki. Hari ini ia telah mendapat pelajaran berharga. Bahwa speak up itu nggak menakutkan seperti yang ia bayangkan. Justru dengan speak up, hati dan pikirannya jadi terasa lebih ringan. Seperti beban-beban yang selama ini dipikulnya, terlepas begitu saja.
Mily mempercepat langkahnya. Tak sabar menceritakan kabar gembira ini kepada Dista dan Tania. Selain itu, ia juga akan berterima kasih kepada mereka berdua. Karena telah memberikannya saran yang sangat bagus. Di kejauhan, Dista dan Tania tengah menunggu kedatangan Mily. Seperti merasa yakin bahwa saran yang mereka berikan telah berhasil, mereka berdua hanya mesem-mesem memandangi Mily yang semakin dekat menghampiri mereka.***
TAMAT
Siang ini jam sudah menunjukan pukul 10. Tak lama kemudian, bel tanda istirahat bergema ke seluruh penjuru SMA Pelita. Dan para siswa-siswi berhamburan ke luar dari kelas mereka masing-masing. Kantin adalah tempat tujuan pertama mereka untuk melepas lelah setelah seperempat hari berkutit dengan buku-buku pelajaran. Tak terkecuali 3 siswi jurusan IPS. Yaitu, Dista, Mily, dan Tania. Kini mereka sedang duduk di kantin sambil menikmati jajanan mereka masing-masing tanpa terusik dengan padatnya kantin.
“Guys, gue boleh ngomong sesuatu nggak?” Tanya Mily memecah keasyikan Dista dan Tania yang sedang menyantap jajanannya. Mereka berdua mengangguk tanpa berhenti mengunyah.
“Ini masalah Zaki,” kata Mily ragu-ragu. “Gue belum bisa ‘speak up’ ke dia.” Aku perempuan berkacamata itu sambil tertunduk. Mendengar pengakuan Mily, Dista dan Tania hanya bertukar pandangan sedetik lalu kembali menikmati jajanan mereka tanpa menggubris pengakuan Mily.
Setelah satu menit tak ada tanggapan, Mily protes, “Hei, kalian denger nggak sih?” Dista dan Tania berhenti mengunyah lalu memandang Mily, “Komentarin kek!” Sungut Mily kesal.
“Emang mau di komentarin apa lagi?” Tanya Dista acuh.
“Bukannya kemarin kita udah ngasih saran?“ Tambah Tania tak kalah acuh.
Sejenak Mily terdiam. “Gue nggak berani speak up ke Zaki guys. Gue malu. Gue nggak mau.” Mily mendesah kemudian menundukkan kepalanya.
Beberapa hari belakangan ini Mily memang tengah dilema. Pasalnya, Zaki, cowok yang dua minggu lalu ‘nembak’ dia, kini terkesan menghindar darinya. Mily memang telah ‘menolak’ Zaki karena alasan ingin fokus ujian. Maklum, sekarang mereka kelas 3 SMA. Namun ia tidak mau kalau Zaki menghindar darinya. Sepertinya ia mulai merasa kehilangan Zaki.
“Mily kalau kita boleh jujur, sebenarnya kita berdua tuh udah capek banget ngasih saran terus ke elo. Sementara elo nggak pernah mau nglakuin saran yang kita kasih. Percuma tau!” Semprot Dista tanpa basa-basi kepada Mily. Mily tersentak kaget.
Tania menyikut tangan Dista, lalu menoleh ke arah Mily dan mengklarifikasi, “Emm...Mily, maksudnya Dista itu, kita cuma pengin elo ngikutin saran terakhir kita.” Mily mendongak ragu. “Kita pengin elo speak up ke Zaki.” Lanjut Tania lebih serius.
"Tapi gue nggak mungkin nglakuin itu. Apa kata genk dia kalo gue nyamperin dia?”
Dista menatap Mily garang. “Elo mau dengerin kata teman-teman dia atau mau dengerin kata hati elo sendiri?“
Dengan cepat Tania menahan bahu Dista dan mengisyaratkannya agar ia menahan emosinya. Dengan ekspresi bijak, Tania menelengkan kepalanya ke arah Mily.
“Mily. Ini adalah saran terakhir kita. Kita peduli sama elo. Kita enggak pengin elo cemas karena cuma mikirin Zaki doang. Padahal ujian tinggal sebentar lagi. Kita pengin masalah elo segera selesai.”
Dengan nada santai tapi tegas, Tania berkata lagi, “elo harus speak up!”
Mily terlihat seperti tersambar petir ketika mendengar kata terakhir yang di ucapkan oleh temannya yang memakai kerudung itu. Ia kembali menunduk. Ia tak yakin bisa melakukannya. Namun ia pun tak yakin bisa membantah ucapan teman-temannya. Apalagi emosi Dista sudah tak terkontrol. Maklum, diantara mereka bertiga, Distalah yang lebih emosional.
Dan sepertinya jalan yang harus Mily tempuh kali ini adalah speak up. Ya, memberanikan dirinya speak up kepada Zaki.
Beberapa menit mereka bertiga terdiam. Sampai ketika pandangan Dista tertuju kepada seorang lelaki bersama genknya yang memasuki kantin. Ia langsung tersentak kaget dan melirik Tania yang duduk disebelahnya. Memerintah agar Tania mau mengikuti arah pandangannya juga. Yang tertumpu pada sosok lelaki itu.
Dua detik kemudian Tania berkata pada Mily yang masih tertunduk cemas, “Sekarang saatnya elo harus speak up ke Zaki.” Mily mendongak. Ragu-ragu mengikuti pandangan Tania yang tertuju ke arah lelaki yang sedang berdiri cukup jauh dari mereka. Dan ternyata lelaki berkulit hitam manis itu adalah Zaki.
Merasa tak bisa membantah, Mily segera bangkit dan berjalan perlahan menuju tempat Zaki berdiri bersama genknya. Sekali-sekali ia menoleh ke arah dua temannya di kejauhan. Berharap mereka akan berubah pikiran. Tapi itu tidak akan pernah terjadi.
Sesampainya di dekat Zaki, Mily langsung menyapa Zaki. Walaupun terkesan kaku. Zaki agak terkesiap. Tak menyangka Mily menghampirinya.
“Kita bisa bicara sebentar nggak?” Tanya Mily tanpa basa-basi. Lalu Zaki mengisyaratkan Mily untuk mengikutinya menjauh dari genknya. Walau begitu, Mily masih bisa melihat teman-teman Zaki yang menatap geli atas kedatangannya. Tapi Zaki tak menggubris kelakuan teman-temannya itu.
Setelah merasa aman dari penglihatan orang lain, Mily segera menyatakan maksudnya. “Zaki, gue kesini, mau minta maaf sama elo. Gue tahu selama ini gue selalu sok jual mahal ke elo. Gue juga tau selama ini elo marah sama gue karena keputusan gue nolak elo.” Mily menunduk. Tak berani menatap mata Zaki. “Tapi jujur. Gue nggak suka elo menghindar dari gue. Gue nggak mau elo ngejauhin gue kayak gini!”
“Apa kita nggak bisa jadi seperti dulu lagi? Jadi teman yang akrab. . . tanpa terbatas oleh perasaan?” kali ini Mily mendongak untuk melihat ekspresi Zaki. Lalu ia kembali manunduk ke bawah. “Itu aja yang gue mau omongin Zak. Thanks ya udah mau dengerin gue.” Mily segera berbalik dan berjalan meninggalkan Zaki yang masih terdiam menunduk bagai patung.
“Mily.” Tiba-tiba Zaki memanggil Mily yang belum jauh meninggalkannya. Spontan langkah Mily terhenti dan ia menoleh ke arah Zaki.
Perlahan Zaki maju menghampiri Mily. “Sebenarnya selama ini gue cuma mau menghargai alasan elo nolak gue. Gue cuma nggak mau ganggu konsentrasi belajar elo.” Mata mereka beradu. “Tapi, ternyata cara gue itu salah.” Zaki mendesah, “dan gue pikir, kita bisa memperbaikinya dengan kembali bersahabat.”
“Jadi elo mau maafin gue?” Seru Mily tak percaya.
“Dalam hal ini nggak ada yang perlu dimaafin. Kita cuma salah paham aja kok!”
“Berarti mulai sekarang kita teman ya!” Sahut Mily girang sambil mengulurkan telapak tangan kanannya sebagai tanda persertujuan.
“Oke!!!” Zaki tersenyum hangat sambil membalas uluran tangan Mily.
Setelah cukup lama berjabat tangan, akhirnya mereka berdua menarik tangan mereka masing-masing. Pipi Mily berubah menjadi merah padam. Senyumannya terus mengembang. Kali ini ia tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya. Selain ia sudah speak up kepada Zaki, ia juga telah kembali menjalin persahabatannya yang selama ini putus akibat kesalahpahaman.
Kemudian, Mily memilih untuk segera beranjak dari hadapan Zaki.
Sambil melangkah pelan menghampiri ke dua temannya, pikirannya terus melayang mengingat peristiwa ‘bersejarah’ yang baru saja ia alami. Sungguh lega rasanya setelah memberanikan diri speak up kepada Zaki. Hari ini ia telah mendapat pelajaran berharga. Bahwa speak up itu nggak menakutkan seperti yang ia bayangkan. Justru dengan speak up, hati dan pikirannya jadi terasa lebih ringan. Seperti beban-beban yang selama ini dipikulnya, terlepas begitu saja.
Mily mempercepat langkahnya. Tak sabar menceritakan kabar gembira ini kepada Dista dan Tania. Selain itu, ia juga akan berterima kasih kepada mereka berdua. Karena telah memberikannya saran yang sangat bagus. Di kejauhan, Dista dan Tania tengah menunggu kedatangan Mily. Seperti merasa yakin bahwa saran yang mereka berikan telah berhasil, mereka berdua hanya mesem-mesem memandangi Mily yang semakin dekat menghampiri mereka.***
TAMAT
Makin Suka
Makin Suka
“Apa sih yang anak cowok obrolin kalau lagi ngumpul?” Mona iseng bertanya kepada segerombolan anak cowok di hadapannya.
“Ngomongin kamu” jawab salah seorang. Sontak suasana disekitar menjadi sunyi. Ternyata yang menjawabnya adalah Geo. Gebetan Mona!
“Jieilehhhh… romantis beeddd” sorak cowok-cowok itu memberondong Mona dan Geo.
Ya, sejak saat itulah hati Mona deg-degan, senang, takut kehilangan, dan aneka rasa lainnya ketika berpapasan dengan Geo. Cowok manis itu memang bukan dambaan seluruh siswi satu sekolah. Namun cowok yang mirip aktor shia laBeouf itu sudah sejak lama hinggap dihati mona.
Karena itulah belakangan hari ini Mona bersolek dan berbakaian lebih rapi. Khususnya ketika berpapasan langsung dengan Geo. Apalagi mereka sekelas dan pastinya menambah ke-grogi-an cewek berkulit kuning langsat ini.
Ketika ada pembagian kelompok Fisika mereka berdua satu kelompok dengan dua orang lainnya. Dan hanya Mona cewek satu-satunya di kelompok itu. Betapa kesal dan senangnya Mona. Pasalnya ia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat ia ditakdirkan satu kelompok dengan Geo yang ia impikan selama ini. Tapi ia juga kesal karena dua cowok selain Geo justru terkenal pemalas dan di’ramalkan’ tidak dapat membantu tugas fisika itu karena faktor malas.
Benar saja. dua hari kemudian tugas itu diputuskan untuk dikerjakan di rumah Mona. Namun hingga dua jam telah berlalu, hanya Geo yang datang. Tak bisa dibayangkan betapa saltingnya gadis yang memakai kawat gigi itu dihadapannya.
“Kayaknya Toti sama Randa nggak bakal dateng.” tutur Geo mencairkan suasana. “Daripada buang-buang waktu, mending kita mulai duluan aja!” ajak cowok yang memakai celana jins dan kaos putih itu sambil membuka bukunya.
Mona langsung tergesa-gesa membuka bukunya. Ia makin salting. “Aduh, dua anak itu pada kemana sih??? Gue kan jadi mati kutu gini” batin Mona. “Ya Tuhan, beri aku kekuatan untuk melewati hari ini dengannya” harap Mona sambil terus membolak-balik asal bukunya.
Satu jam kemudian tugas fisika mengenai listrik itu telah selesai. Kemudian Mona beranjak ke dapur dan kembali ke hadapan Geo dengan membawa kue brownis dan dua gelas sirup. Tiba-tiba tanpa disengaja kaki Mona tersantuk ujung kaki meja dan sirup yang sedang ia bawa tumpah tepat diatas kertas tugas yang baru saja mereka selesaikan.
“YA AMPUUUUNNNNN!!!” teriak mereka berbarengan.
“Ya ampun” Mona langsung menyambar kertas itu dan mengibaskannya diatas angin. “Dodol banget sih gue. Aduh gemana dong” hardik Mona pada dirinya sendiri.
“Hhhhhaaaaaa. Akhirnya bersuara juga.” tutur Geo dengan tawanya yang geli.
Mona terbengong. “Maksudnya?“ ia masih tak mengerti apa yang baru Geo katakan. “Tugas kacau kok malah ketawa“ Mona kembali sibuk mengibaskan kertas itu agar kering ditiup angin. Padahal semua orang juga tahu kalau kertas yang sudah ketumpahan sirup pasti tidak akan bisa kembali seperti sedia kala.
Kemudian mereka berdua sibuk membersihkan noda di kertas itu. Setengah jam telah berlalu. Dua orang itu masih saja terpaku melihat secarik kertas yang tak berdaya itu. Suasana hening.
“Maaf ya Geo. Gue janji bakal ngurus ini. Dan tetap ngumpulin tugas ini besok.” janji Mona pada lelaki yang masih terdiam di sebelahnya.
“Santai aja kali. Gue juga masih inget apa aja yang tertulis di sana” dagu Geo mengarah ke kertas yang sudah berubah warna menjadi merah muda itu.
Mona tertunduk lesu. “Ini kebodohan gue. Jadi gue harus bertanggung jawab”
“Oke. Kalau itu yang lo mau.” ujar lelaki yang suka warna coklat itu sambil merubah posisi duduknya. “Tapi kalau ada kesulitan, lo hubungi gue aja ya. Nih nomor hape gue.” lanjutnya dengan menuliskan beberapa nomor diatas buku Mona yang terbuka.
Mona terbengong. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja lelaki pujaannya itu lakukan. Beberapa detik kemudian ia tersadar ketika Geo pamit pulang.
“Oke. Hati-hati ya Geo. Makasih udah mau datang dan...“
“Lha itu kan udah kewajiban kita sebagai kelompok. Dua orang itu aja yang nggak bertanggung jawab“ potong Geo sambil mengambil tasnya.
“Dan tentang kertas itu...“
“Iye...iye... santai aja kali.” Seru Geo dengan senyuman manisnya.
Hingga sampai di pintu pagar
“Makasih juga ya...” kata Geo pelan
“Makasih? Apa?
“Karena udah mau bicara sama gue. Gue kira selama ini lo marah sama gue karena kata-kata gue yang waktu lagi bareng anak-anak itu. Gue tau itu nggak pantes gue ucapkan. Pasti lo malu banget. ” jelas Geo dengan kepala tertunduk
“Yang... Ohh...” Mona sudah mengerti arah pembicaraan Geo.
“Oke. Bye” Geo menutup hari itu dengan senyum manis dihadapan Mona.
Mona speachless. Seperti tersengat listrik 200 volt ia terpaku melihat bayangan Geo yang semakin detik semakin menghilang. Ia masih tak percaya hari ini. Apa yang dilakukannya sepanjang hari ini. Apa yang baru saja dikatakan Geo hari ini.
“Dia kira aku marah sama dia???” tanya Mona pada hatinya sendiri. Sambil senyum-senyum centil, perlahan perempuan penyuka hamster ini masuk ke rumahnya. Dari dalam rumah besar itu tiba-tiba terdengar teriakan “Aku semakin suka sama kamu Geo!!!!”
“Apa sih yang anak cowok obrolin kalau lagi ngumpul?” Mona iseng bertanya kepada segerombolan anak cowok di hadapannya.
“Ngomongin kamu” jawab salah seorang. Sontak suasana disekitar menjadi sunyi. Ternyata yang menjawabnya adalah Geo. Gebetan Mona!
“Jieilehhhh… romantis beeddd” sorak cowok-cowok itu memberondong Mona dan Geo.
Ya, sejak saat itulah hati Mona deg-degan, senang, takut kehilangan, dan aneka rasa lainnya ketika berpapasan dengan Geo. Cowok manis itu memang bukan dambaan seluruh siswi satu sekolah. Namun cowok yang mirip aktor shia laBeouf itu sudah sejak lama hinggap dihati mona.
Karena itulah belakangan hari ini Mona bersolek dan berbakaian lebih rapi. Khususnya ketika berpapasan langsung dengan Geo. Apalagi mereka sekelas dan pastinya menambah ke-grogi-an cewek berkulit kuning langsat ini.
Ketika ada pembagian kelompok Fisika mereka berdua satu kelompok dengan dua orang lainnya. Dan hanya Mona cewek satu-satunya di kelompok itu. Betapa kesal dan senangnya Mona. Pasalnya ia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat ia ditakdirkan satu kelompok dengan Geo yang ia impikan selama ini. Tapi ia juga kesal karena dua cowok selain Geo justru terkenal pemalas dan di’ramalkan’ tidak dapat membantu tugas fisika itu karena faktor malas.
Benar saja. dua hari kemudian tugas itu diputuskan untuk dikerjakan di rumah Mona. Namun hingga dua jam telah berlalu, hanya Geo yang datang. Tak bisa dibayangkan betapa saltingnya gadis yang memakai kawat gigi itu dihadapannya.
“Kayaknya Toti sama Randa nggak bakal dateng.” tutur Geo mencairkan suasana. “Daripada buang-buang waktu, mending kita mulai duluan aja!” ajak cowok yang memakai celana jins dan kaos putih itu sambil membuka bukunya.
Mona langsung tergesa-gesa membuka bukunya. Ia makin salting. “Aduh, dua anak itu pada kemana sih??? Gue kan jadi mati kutu gini” batin Mona. “Ya Tuhan, beri aku kekuatan untuk melewati hari ini dengannya” harap Mona sambil terus membolak-balik asal bukunya.
Satu jam kemudian tugas fisika mengenai listrik itu telah selesai. Kemudian Mona beranjak ke dapur dan kembali ke hadapan Geo dengan membawa kue brownis dan dua gelas sirup. Tiba-tiba tanpa disengaja kaki Mona tersantuk ujung kaki meja dan sirup yang sedang ia bawa tumpah tepat diatas kertas tugas yang baru saja mereka selesaikan.
“YA AMPUUUUNNNNN!!!” teriak mereka berbarengan.
“Ya ampun” Mona langsung menyambar kertas itu dan mengibaskannya diatas angin. “Dodol banget sih gue. Aduh gemana dong” hardik Mona pada dirinya sendiri.
“Hhhhhaaaaaa. Akhirnya bersuara juga.” tutur Geo dengan tawanya yang geli.
Mona terbengong. “Maksudnya?“ ia masih tak mengerti apa yang baru Geo katakan. “Tugas kacau kok malah ketawa“ Mona kembali sibuk mengibaskan kertas itu agar kering ditiup angin. Padahal semua orang juga tahu kalau kertas yang sudah ketumpahan sirup pasti tidak akan bisa kembali seperti sedia kala.
Kemudian mereka berdua sibuk membersihkan noda di kertas itu. Setengah jam telah berlalu. Dua orang itu masih saja terpaku melihat secarik kertas yang tak berdaya itu. Suasana hening.
“Maaf ya Geo. Gue janji bakal ngurus ini. Dan tetap ngumpulin tugas ini besok.” janji Mona pada lelaki yang masih terdiam di sebelahnya.
“Santai aja kali. Gue juga masih inget apa aja yang tertulis di sana” dagu Geo mengarah ke kertas yang sudah berubah warna menjadi merah muda itu.
Mona tertunduk lesu. “Ini kebodohan gue. Jadi gue harus bertanggung jawab”
“Oke. Kalau itu yang lo mau.” ujar lelaki yang suka warna coklat itu sambil merubah posisi duduknya. “Tapi kalau ada kesulitan, lo hubungi gue aja ya. Nih nomor hape gue.” lanjutnya dengan menuliskan beberapa nomor diatas buku Mona yang terbuka.
Mona terbengong. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja lelaki pujaannya itu lakukan. Beberapa detik kemudian ia tersadar ketika Geo pamit pulang.
“Oke. Hati-hati ya Geo. Makasih udah mau datang dan...“
“Lha itu kan udah kewajiban kita sebagai kelompok. Dua orang itu aja yang nggak bertanggung jawab“ potong Geo sambil mengambil tasnya.
“Dan tentang kertas itu...“
“Iye...iye... santai aja kali.” Seru Geo dengan senyuman manisnya.
Hingga sampai di pintu pagar
“Makasih juga ya...” kata Geo pelan
“Makasih? Apa?
“Karena udah mau bicara sama gue. Gue kira selama ini lo marah sama gue karena kata-kata gue yang waktu lagi bareng anak-anak itu. Gue tau itu nggak pantes gue ucapkan. Pasti lo malu banget. ” jelas Geo dengan kepala tertunduk
“Yang... Ohh...” Mona sudah mengerti arah pembicaraan Geo.
“Oke. Bye” Geo menutup hari itu dengan senyum manis dihadapan Mona.
Mona speachless. Seperti tersengat listrik 200 volt ia terpaku melihat bayangan Geo yang semakin detik semakin menghilang. Ia masih tak percaya hari ini. Apa yang dilakukannya sepanjang hari ini. Apa yang baru saja dikatakan Geo hari ini.
“Dia kira aku marah sama dia???” tanya Mona pada hatinya sendiri. Sambil senyum-senyum centil, perlahan perempuan penyuka hamster ini masuk ke rumahnya. Dari dalam rumah besar itu tiba-tiba terdengar teriakan “Aku semakin suka sama kamu Geo!!!!”
Langganan:
Postingan (Atom)



